Custom Search
Home » » Penyakit Leptospirosis Pada Anjing

Penyakit Leptospirosis Pada Anjing

Written By Wulanto Burhan on Sunday, February 19, 2012 | 3:13:00 PM

Penanganan Penyakit Leptospirosis Pada Anjing,
 
Penyakit Anjing ini merupakan penyakit yang paling berbahaya pada anjing kita, yaitu Penyakit Leptospirosis. Sebenarnya penyakit ini bukan hanya pada Anjing saja tetapi bisa juga menyerang hewan lain dan manusia termasuk kita. Masih ingat kan sewaktu Jakarta terendam banjir, nah waktu itu penyakit yang paling banyak menyerang penduduk Jakarta adalah Leptospirosis. Baik saya coba untuk bercerita tentang penyakit ini.
Apa Penyebab Penyakit Leptospirosis...? 

Penyebab penyakit ini adalah Bakteri Leptospira sp yang ditularkan dari hewan kemanusia atau sebaliknya, jadi biasanya disebut dengan penyakit zoonosis. Nama penyakit ini juga bermacam-macam ada yang menyebutnya Penyakit Swineherd's, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, atau Demam Canicola. Ada juga yang menyebut Demam Icterohemorrhage sehingga biasa disebut juga Penyakit Kuning non-Virus.
Bakteri Leptospira merupakan Spirochaeta aerobik (membutuhkan oksigen untuk bertahan hidup), motil (dapat bergerak), gram negatif, bentuknya dapat berkerut-kerut, dan terpilin dengan ketat. Bakteri Lepstospira berukuran panjang 6-20 µm dan diameter 0,1-0,2 µm. Sebagai pembanding, ukuran sel darah merah hanya 7 µm. Jadi, ukuran bakteri ini relatif kecil dan panjang sehingga sulit terlihat bila menggunakan mikroskop cahaya dan untuk melihat bakteri ini diperlukan mikroskop dengan teknik kontras. Bakteri ini dapat bergerak maju dan mundur.
Leptospira mempunyai ±175 serovar , bahkan ada yang mengatakan Leptospira memiliki lebih dari 200 serovar. Infeksi dapat disebabkan oleh satu atau lebih serovar sekaligus. Bila infeksi terjadi, maka pada tubuh penderita dalam waktu 6-12 hari akan terbentuk zat kebal aglutinasi. Leptospirosis pada anjing disebabkan oleh infeksi satu atau lebih serovar dari Leptospira interrogans. Serovar yang telah diketahui dapat menyerang anjing yaitu L. australis, L. autumnalis, L. ballum, L. batislava, L. canicola, L. grippotyphosa, L. hardjo, L. ichterohemorarhagica, L. pomona, dan L. tarassovi
Terdapat dua serotipe dari Leptopira yang penting pada anjing yaitu; 1) Serotipe Canicola yang berhubungan erat dengan kejadian nefritis interstisialis akut dan 2) Serotipe icterohaemorrhagie yang berhubungan dengan kejadian jaundice dan hemoragi. Perbedaan antara kedua serotipe ini disimpulkan bahwa serotipe canicola berhubungan dengan jaundice dan serotipe icterohaemorrhagie berhubungan dengan penyakit ginjal (Noel dan Latimer 2008). Leptospirosis pada anjing selalu berkaitan dengan gagal ginjal akut dan penyakit hati yang disertai dengan jaundice (Ettinger & Feldman 1995). 

Bagaimana Penularan Penyakit Lepatospira ini..?

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan . Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru . Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir . Gerakan bakteri memang tidak memengaruhi kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh namun mendukung proses invasi dan penyebaran di dalam aliran darah induk semang.

Kejadian Leptospirosis di Indonesia Pada Manusia 

Di Indonesia, penularan paling sering terjadi melalui tikus pada kondisi banjir. Keadaan banjir menyebabkan adanya perubahan lingkungan seperti banyaknya genangan air, lingkungan menjadi becek, berlumpur, serta banyak timbunan sampah yang menyebabkan mudahnya bakteri Leptospira berkembang biak. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama Leptospirosis  karena bertindak sebagai inang alami dan memiliki daya reproduksi tinggi. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang Leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus.

Bentuk Penularan 
Bentuk penularan Leptospira dapat terjadi secara langsung dari penderita ke penderita dan tidak langsung melalui suatu media. Penularan langsung terjadi melalui kontak dengan selaput lendir (mukosa) mata (konjungtiva), kontak luka di kulit, mulut, cairan urin, kontak seksual dan cairan abortus (gugur kandungan). Penularan dari manusia ke manusia jarang terjadi.
Penularan tidak langsung terjadi melalui kontak hewan atau manusia dengan barang-barang yang telah tercemar urin penderita, misalnya alas kandang hewan, tanah, makanan, minuman dan jaringan tubuh. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Umumnya penularan lewat mulut dan tenggorokan sedikit ditemukan karena bakteri tidak tahan terhadap lingkungan asam.

Bagaimana Mendiagnosa Penyakit Lepatospira ini…?

Perubahan Patologi Anatomi yang merupakan patognomonis dari penyakit ini meliputi hepatitis, ikhterus, nefritis interstitialis dan pendarahan multiorgan. Leptospira dapat menyerang berbagai organ antara lain ginjal, hati, limpa, sistem saraf pusat (SSP), mata, dan organ reproduksi. Patogenesa penyakit ini diawali dengan anjing terinfeksi Leptospira melalui kontak dengan urin hewan yang terinfeksi sebelumnya, air yang terkontaminasi Leptospira dari urin tikus, kopulasi, gigitan dan daging yang terinfeksi Leptospira. Leptospira masuk ke dalam tubuh hewan melalui kulit yang luka atau membran mukosa kemudian masuk ke pembuluh darah. Bakteremia ini dapat merusak pembuluh darah dan melisiskan darah. Leptospira memiliki enzim lipase yang ekan merusak membran sel darah dan sel endotel hal inilah yang menyebabkan terjadinya pendarahan multi organ. Lisisnya sel darah merah membuat limpa meningkatkan kerjanya untuk melakukan destruksi sel darah merah yang menyebabkan terjadinya peningkatan bilirubin tak terkonjugasi dalam darah yang menyebabkan terjadinya ikhterus. Selain ikhterus pre hepatik, leptospirosis juga menyebabkan ikhterus hepatik karena rusaknya sel-sel hati dan ikhterus post-hepatik karena tersumbatnya duktus choledukus oleh bakteri tersebut dan reruntuhan sel dinding duktus. Bakteri ini tersebar di beberapa organ tubuh penting antara lain ginjal, hati, SSP, limpa, mata, dan organ reproduksi. Tubuh dapat bereaksi terhadap infeksi Leptospira dengan memproduksi antibodi. Umumnya Leptospira dapat dieliminasi dari sebagian besar organ oleh antibodi yang diproduksi tubuh. Namun keberadaan Leptospira di ginjal sulit dieliminasi, karena ginjal khususnya daerah glomerulus merupakan daerah yang jarang ditemukan antibodi karena ukuran antibodi yang tidak dapat melewati filtrat glomerulus. Berdasarkan anamnese, dikatakan bahwa anjing telah menjalani vaksinasi terhadap leptospira. Munculnya leptospirosis pada hewan yang telah divaksinasi dapat terjadi karena beberapa hal diantaranya kegagalan vaksinasi, kegagalan tubuh membentuk antibodi karena imunosupresif ataupun anjing terinfeksi leptospira dari serevoar lain yang tidak terdapat dalam vaksin. Pada kondisi ini, Leptospira dapat keluar bersama urin selama beberapa bulan hingga tahunan. Keparahan lesio organ tergantung pada virulensi agen dan kerentanan hewan sebagai induk semang. Penularan banyak terjadi saat musim hujan atau dalam keadaan lembab.

Bagaimana Cara Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Leptospirosis ini..?

Hewan, terutama hewan kesayangan, yang terinfeksi parah perlu diberikan perawatan intensif untuk menjamin kesehatan masyarakat dan mengoptimalkan perawatan Antibiotik yang dapat diberikan yaitu doksisiklin, enrofloksasin, ciprofloksasin atau kombinasi penisillin-streptomisin Selain itu diperlukan terapi suportif dengan pemberian antidiare, antimuntah, dan infus.
Sedangkan Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksin Leptospira. Vaksin Leptospira untuk hewan adalah vaksin inaktif dalam bentuk cair (bakterin) yang sekaligus bertindak sebagai pelarut karena umumnya vaksin Leptospira dikombinasikan dengan vaksin lainnya, misalnya distemper dan hepatitis.Vaksin Leptospira pada anjing yang beredar di Indonesia terdiri atas dua macam serovar yaitu L. canicola dan L. ichterohemorrhagiae Vaksin Leptospira pada anjing diberikan saat anjing berumur 12 minggu dan diulang saat anjing berumur 14-16 minggu. Sistem kekebalan sesudah vaksinasi bertahan selama 6 bulan, sehingga anjing perlu divaksin lagi setiap enam bulan.

Judul: Penyakit Leptospirosis Pada Anjing
Rating: 100% based on 99998 ratings. 4.5 user reviews.
Google Ditulis Oleh Wulanto Burhan

Admin mengucapkan terimakasih atas kunjungan dan kesediaan Anda membaca artikel ini. Mohon tidak melakukan copy paste pada artikel ini tanpa seijin dari kami. Blog ini terlindung oleh DMCA, bagi yang terlanjur melakukan copy paste dimohon untuk menyertakan link, jika tidak konten anda akan dihapus secara paksa.
Posted by: Wulanto Burhan
Penyakit Anjing, Updated at: 3:13:00 PM
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

Google+ Followers

 
Support : Penyakit Anjing | DMCA PROTECTION
Copyright © 2013. Penyakit Anjing - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger